Laba-laba di ujung senja itu masih saja mengajukan pertanyaan yang sama padaku; entah untuk yang keberapa kalinya.
“Untuk apa kau hidup?”
Awalnya aku tak pernah menggubris pertanyaan itu. Terlalu sepele, pikirku. Lagipula, bagaimana manusia bisa hidup kalau terus-menerus mempertanyakan hakikat segala?
Tapi, entah kenapa, pertanyaan yang terus didengungkannya itu mulai menggelitikku. Untuk apa ya aku hidup?
Apakah untuk memeriahkan dunia saja? Tapi, jika memang begitu, kenapa harus aku? Toh aku cuma sebagian kecil dari miliaran penduduk bumi ini. Begitu kecilnya sampai kehadiranku bisa diabaikan.
Atau… aku muncul untuk sesuatu yang lebih daripada itu? Tapi apa?
Pertanyaan itu membawaku meninggalkan kursi malas yang telah panas karena lama kududuki. Aku berjalan menuju halaman belakang rumahku. Barangkali aku bisa bertanya pada burung yang lewat, semut yang hampir kuinjak, atau mungkin… rumput yang sekarang benar-benar sedang kuinjak.
“Hai rumput, untuk apa kau hidup?”
Ia tidak lekas menjawab.
“Bagi manusia, aku hidup untuk menghiasi taman-taman. Aku disusun membentuk permadani hijau di taman-taman mereka, meski akhirnya diinjak-injak. Tapi, meskipun sering ditindih alas kaki, aku bisa berbangga hati. Siapa lagi yang memberi makan sapi-sapi dan kambing-kambingmu itu kalau bukan aku?”
Aku menarik nafas panjang. Jawaban si rumput memberi sedikit titik terang bagiku, tapi keseluruhannya masih tetap saja hitam.
Seekor semut meliuk antara rerumputan lalu dengan nekat melintasi kakiku, menimbulkan sensasi di ujung-ujung sarafku. Berani sekali dia, pikirku. Aku kan bisa membuatnya gepeng kapan saja.
Tapi, alih-alih melakukan hal itu, aku menanyakan padanya pertanyaan laba-laba. “Untuk apa kau hidup?”
“Aku mungkin cuma dianggap perampok oleh segelintir makhluk. Tapi, lihat otot-ototku yang kekar ini. Aku bisa memikul lebih dari yang kiranya bisa kupikul. Tidakkah itu menginspirasimu?”
Benar juga, pikirku. Padahal si semut begitu kecil, pula sering mengerubungi kue-kue manisku (yang membuat air liurku menetes) dan membawa potongan-potongannya pergi. Mengingat hal itu, aku jadi kesal. Tapi, si semut sudah mengajarkan aku satu hal hari ini.
Jawaban kedua makhluk mungil itu atas pertanyaanku membuatku berkelana ke dalam pikiran-pikiran yang selama ini tak pernah kuselami.
“Aku sudah menemukan jawabannya, laba-laba! Tapi sebelum mengutarakan jawabanku, izinkan aku bertanya. Mengapa kau menanyakan hal itu padaku?”
“Aku menanyakan hal itu tidak hanya padamu; tentu saja tidak. Aku telah menanyakan hal yang sama pada rumput yang tadi kau injak, semut yang baru saja melintas di kakimu.”
“Jadi kau menanyakannya pada semua makhluk?”
“Ya, tentu saja. O ya, kau tidak perlu memberitahukan jawabanmu padaku. Ungkapkan saja jawabanmu pada makhluk lain yang kelak bertanya padamu karena terusik pertanyaanku.”
Gila, pikirku. Laba-laba itu tampaknya benar-benar menanyakan hal yang sama pada semua makhluk.
30 Januari 2005